Into the Universe With Stephen Hawking Part 2: Time Traveler

Stephen Hawking

Reviewed by: Milton Sumirat

Apakah John Titor memang ada? Secara teoritis, mungkinkan perjalanan waktu dilakukan? Stephen Hawking menjawab.

Time Traveler adalah episode kedua dari trilogi Into The Universe with Stephen Hawking. Episode ini berkenaan dengan: Waktu. Sebuah konsep dan subyek yang sangat digemari oleh Stephen Hawking. Jika Anda pernah membaca buku biografinya atau bukunya The Brief Story Of Time, atau film drama mengenai kehidupannya: The Theory Of Everything, akan setuju dengan apa yang tertulis direview ini.

Perjalanan waktu adalah sebuah imajinasi banyak orang. Bagi yang pernah melihat Interstellar dan kagum terhadap film tersebut. Into The Universe menjelaskan 2 poin menarik dalam film interstellar: perjalanan waktu dan makhluk 4 dimensi.

Apa itu 4 dimensi? Into The Universe menjelaskan mengenai dimensi ke empat: dimensi waktu. Stephen Hawking mengumpakannya pada sebuah mobil sport super cepat yang sedang melaju di jalanan; mobil ini berjalan lurus dari satu titik ke titik lain: dimensi ke-1; bergerak terus dan menemui kelokan, mobil ini belok ke kanan dan ke kiri:dimensike-2 ; setelah melaju jauh, mobil ini menemui pebukitan, dia harus menaiki bukit dan turun setelahnya: dimensi ke-3; dan dimensi yang terakhir adalah “waktu” yang inheren dengan dimensi-dimensi sebelumnya.

Dalam film interstellar dijelaskan bahwa, mahkluk 4 dimensi berbeda dengan mahluk 3 dimensi. Mereka mungkin bisa pindah ke masa depan atau masa lalu seperti mahluk 3 dimensi naik-turun tangga. Lalu bagaimana cara mahkluk 3 dimensi bisa melakukan apa yang dikuasai mahluk 4 dimensi?

Di setiap celah dan lubang tiap materi yang ada di alam semesta, yang ada di bumi, atau bahkan pada barang-barang di sekitar kita. Bagi teori kuantum, tidak ada suatu materi yang benar-benar padat atau datar, setiap benda memiliki satu lubang, dan kita bisa menembusnya, melihat bagian kecil dari materi itu, terus lebih dalam sampai kita menemukan bagian-bagian paling kecil yang sulit untuk dilihat oleh mata telanjang manusia. Sudah banyak orang yang sadar akan kondisi ini, Anda mungkin salah satunya. Sebagai informasi tambahan, selain terjadi dalam dimensi ketiga, hal ini juga terjadi dalam dimensi keempat.

Jauh pada skala yang terkecil, lebih kecil dari molekul, lebih kecil dari atom, di sana ada sebuah tempat yang dinamakan “quantum foam”, di sana lah di mana tiket kita untuk jalan pintas yang melewati ruang dan waktu melewati suati lorong yang bernama : WormHole.

Worm hole di dalam quantum foam, terbentuk, menghilang, lalu tersusun kembali secara konsisten. Worm hole ini menghubungkan ruangdan waktu yang berbeda. Tapi sayangnya, wormhole ini sangat lah kecil, sehingga tidak mungkin bagi manusia untuk melewatinya. Kita berharap agar ada satu ilmuwan dengan teknologi yang luar biasa dapat menarik worm hole dari tempat tersebut, dan memperbesarnya, mungkin sampai seukuran manusia, atau bahkan lebih besar lagi sampai ukuran satu kapal luar angkasa. Siapa yang tidak mau mencoba untuk menjelajah luar angkasa dengan waktu bersamaan? Kau bisa pindah dari satu planet ke planet lain, atau mungkin siapa yang ingin melihat dinosaurus secara langsung di masa lalu?

Fun isn’t it?

Bisa kah kita kembali ke masa lalu? Jawabannya ada dalam perumpamaan ini: Ada satu ilmuwan yang ingin bereksperimen dengan waktu, dengan perbandingan hasil dan konsekuensinya, dia bersedia menyerahkan segalanya, bahkan nyawanya. Dalam satu ruang tertutup dan ada mesin waktu yang membuka gerbang ke masa lalu, ilmuwan ini sedang memasang pistolnya. Lalu dia berjalan memutar ke mesin waktu itu, dan melihat realitas yang terjadi 5 menit sebelumnya. Dengan apa yang telah dia siapkan, dia menembak dirinya di masa lalu. Ilmuwan itu pun mati. Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Siapa yang menembak ilmuwan itu jika pelurunya sendiri pun belum sedia terpasang? Lalu kemana ilmuwan masa depan yang menembak dirinya sendiri? Hidup? Mati? Atau menghilang? Ini lah paradoks.

Jika paradoks ini terjadi, maka akan terjadi suatu kekacauan dari segala yang telah tersusun dan terbentuk di semesta ini. Untungnya, alam juga yang memungkinkan mesin waktu macam ini tidak bisa berfungsi.

Dalam suatu konser musik rock, terkadang kita sering mendengarkan suat lentingan bunyi yang sangat tinggi dan menganggu telinga. Itu adalah feedback. Feedback terjadi ketika ada input suara yang masuk, diperbesar oleh amplifier, lalu dikeluarkan pada speaker, dalam porsi yang tidak seimbang. Alur ini berjalan cepat :input-amplifier-speaker, terus menerus. Jika bebannya berlebihan maka feedback akan muncul, dan jika tingkatnya sudah parah, kemungkinan amplifier sebagai gerbang pengeras suara pun akan meledak. Begitu pun yang terjadi pada gerbang penjelajah waktu. Bedanya, ketimbang suara yang menjadi input, radiasi natural di sekitar gerbang waktu ini lah yang terserap. Dengan kondisi yang tidak stabil, gerbang waktu yang baru terbentuk pun akan hancur seketika.

Sudah menjadi niscaya bahwa “akibat” muncul setelah “sebab”, dan tidak bisa sebaliknya. Jadi untuk orang-orang yang ingin melihat dinosaurus secara langsung pada zamanprehistoric. Sayangnya itu tidak mungkin terjadi. Masih ada kah cara lain untuk menjelajah luar angkasa?

Lebih dari 100 tahun yang lalu, Albert Einstein telah menyadari, ada kondisi di satu tempat yang membuat waktu berjalan lebih cepat atau lebih lambat. Di sini waktu diibaratkan sebagai sebuah sungai yang mengalir, di bagian tengahnya merupakan arus yang cepat, sedangkan yang lebih pinggir merupakan arus yang lambat.

Perumpamaan sungai ini bisa digambarkan pada satu contoh yang telah terbukti. Contoh yang berada di atas kepala kita: Satelit GPS.Satelit-satelit ini mengorbit menjauh dari bumi. Sepanjang perjalanan rotasinya, satelit ini mengalami suatu perubahan waktu. Mereka berada pada arus yang cepat, penghitung waktu di dalam satelitberbeda sepersekian detik dengan bumi tiap harinya, lebih cepat dari waktu di bumi. How? Ini dikarenakan oleh massa bumi.

Piramida Giza, di Mesir. Merupakan salah satu benda ciptaan manusia terberat yang ada di bumi. Benda yang memiliki massa yang cukup besar, sehingga bisa membuat distorsi waktu. Orang-orang yang berada di sekitar piramid akan mengalami waktu yang lebih lambat ketimbang yang berada jauh di piramid ini, sehingga orang-orang ini akan melihat pergerakan yang relatif lebih cepat dari benda-benda yang bergerak di luar kawasan piramid. Seberapa besar perbedaan waktu-nya? Hanya seper-miliyar detik dari waktu normal.

Untuk skala yang lebih luas, ada benda lain yang memiliki masa lebih berat ketimbang Piramid Giza. Di tengah galaksi milky way yang berjarak 2.600 tahun cahaya dari bumi, terdapat satu benda yang berukuran sangat besar, memiliki massa seberat 4 juta matahari yang dipadatkan dalam satu ikatan gravitasi. Dengan kekuatan tersebut, benda ini bisa memperlambat waktu apapun yang ada di semesta ini.Benda hitam padat yang bisa menjadi salah satu mesin waktu alami alam semesta ini adalah: Black Hole.

Cara memanfaatkan black hole adalah bukan masuk ke dalamnya, karena kita akan hancur seketika, justru kita harus mengitarinya. Oleh karena itu, kita harus membuat suatu kapal luar angkasa yang sangat besar dan scukup kuat.

Sekali putaran mengelilingi black hole ini bisa mengalami perbedaan sebanding dengan setengah waktu yang ada di bumi. Jadi jika dalam satu putaran bisa menghabiskan 2 hari, maka di bumi telah melewati 4 hari. Pesawat ini harus berada dalam satu jalur orbit yang tepat agar tidak tertarik oleh gravitasi black hole yang sangat dahsyat. Tetapi sayangnya, dengan risiko yang ada, cara ini tidak praktikal, karena berbahaya dan sulit.

Kita harus mencari cara lain untuk melakukan perjalanan waktu. Menggunakan cara dan mesin yang berbeda, dan dilakukan di atas bumi.

Ada batasan kecepatan kosmik, yaitu 186.000 mil/detik yang dikenal juga sebagai kecepatan cahaya.Berkendara dengan kecepatan cahaya, dapat membawa kita ke masa depan. Kita bisa membuat sebuah rel yang sangat panjang hingga mengelilingi bumi sebagai jalur untuk kereta cepat yang menjadi mesin waktu kita sekarang ini.

Ketika berputar mengelilingi bumi berkali-kali, kereta ini akan mendekati kecepatan cahaya. Tetapi tidak akan pernah menyamai atau lebih dikarenakan hukum fisika. Lalu bagaimana jika ada seorang anak kecil di dalam kereta yang berlari ke arah kereta melaju? Bagaimana jika kecepatannya di tambah dengan kecepatan kereta?Akan menghasilkan kecepaan cahaya? Sayangnya itu tidak mungkin. Sekali lagi, hukum fisika lah yang mencegahnya. Di dalam kereta, waktu akan lebih lambat dari pada di luar, dan terdapat distorsi bahwa apa yang terjadi di dalam kereta bergerak dalam mode slow-mo.

Tapi tentu membuat kereta semacam itu juga adalah tidak mungkin. Di tempat akselerator partikel terbesar dunia, CERN, Geneva, Swiss. Jauh di bawah tanah, terdapat saluran memutar sepanjang 16 mil, yang merupakan aliran dari triliyunan lebih partikel kecil. Ketika dayanya dinyalakan, mereka bergerak dari 0 – 60ribu mil per jam. Tambah daya dan partikel2 tersebut bergerak semakin cepat sampai mereka mencapai 11.000 kali perdetik yang berarti mendekati kecepatan cahaya. Sama seperti kereta, mereka tidak bisa mencapai kecepatan cahaya, tetapi hanya 99,99%. Jika sampai 100% maka partikel tersebut bisa menembus waktu. Hal ini diketahui karena, terdapat satu partikel yang hidup smentara dinamai pi mesons yang terdisintegrasi setela 25 trilun per detik. Tetapi ketika mereka mencapai kecepatan cahaya, mereka hidup 30 kali lebih lama. Partikel ini lah yang merupakan time traveler alami.

Perjalanan waktu masih bisa dilakukan, mengambil intisari dari apa yang telah kita diskusikan sebelumnya. Tidak menggunakan wormhole atau blackhole. Kita harus mencoba untuk membuat suatu pesawat luar angkasa. Pesawat yang cukup besar untuk menyimpan bahan bakar yang dibutuhkan. Perlahan pesawat ini malaju dalam beberapa tahap, bisa bertahun-tahun untuk menyelesaikan satu tahap sampai tahap terakhir yaitu kecepatan cahaya. Setelah mencapai kecepatan ini, waktu yang ada di bumi berjalan lebih cepat, dan sesampainya kita menjelajah luar angkasa, kita menemukan bumi telah berada di masa depan. Bertahun-tahun lewat setelah kita berangkat menjelajah luar angkasa.

Into The Universe: Time Travel, masih menggunakan tema dan susunan yang sama dengan episode sebelumnya. Anda bisa membacanya pada review ITU: Alien sebelumnya. Kesimpulannya adalah film ini merupakan hasil audio-visual dari gagasan Stephen Hawking mengenai waktu. Dengan membandingkan dengan tema-tema sci-fi (science-fiction), kita bisa melihat dan berpikir dalam menganalisis satu fenomena mengenai waktu dengan hukum-hukum fisika yang inheren dengannya. Setelah menonton ini, mungkin Anda akan memiliki pandangan baru ketika berhadapan dengan hal-hal serupa dengan tema yang sama: film, bacaan ilmiah, atau teman Anda yang sedang membual mengenai perjalanan waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s